Social Media

twitterfacebookgoogle plusinstagramrss feedemail

Sabtu, 21 Juni 2014

Motivasi Islami : "Ya Allah, Mengapa Cobaan Ini Datang Bertubi-tubi"


Ketika mendapatkan masalah kehidupan, tidak sedikit diantara kita yang berpikir untuk menyelesaikan atau mengatasi masalah tersebut. Memang hal ini tidak sepenuhnya salah. Namun kita tidak menyadari bahwa pikiran tersebut sesungguhnya membuat tekanan yang sangat besar kepada diri kita dalam menghadapi situasi tersebut. Terlebih lagi jika ternyata segala alternatif yang kita lakukan untuk mengatasi masalah tersebut, tidak memenuhi harapan kita. Tidak jarang karena hanya berpikir mengatasi masalah, akhirnya segala cara dilakukan, tidak penting lagi apakah cara tersebut benar atau salah.

Orang-orang yang beriman, meyakini bahwa walaupun masalah-masalah kehidupan itu terjadi akibat perbuatan tangan kita sendiri, namun sebuah masalah itu hadir pasti atas izin Allah Swt. Jika kita meyakini sesuatu masalah kehidupan hadir menghampiri kita atas seizin Allah Swt, maka seharusnya kita meyakini bahwa ada maksud Allah dibalik setiap masalah yang terjadi.
Banyak orang yang ketika ia ditimpa permasalahan hidup, ia akan berkata: “pasti ada hikmahnya!“. Tetapi kalau ditanya, apa sih hikmah itu, maka sebahagian besar akan kesulitan menjawabnya.

Ketahuilah bahwa hikmah dibalik musibah adalah keinginan Allah kepada kita sehingga masalah tersebut diizinkanNya hadir dalam kehidupan kita. Nah ketika kita menghadapi musibah, seharusnya agenda pertama kita adalah mengetahui hikmah tersebut. Karena jika hikmahnya sudah dipahami, maka Allah sendiri yang akan memberikan jalan keluar dan mengangkat masalah tersebut dari diri kita.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” [QS Alam Nasyrah (94):5-6]


Sayangnya karena perhatian kita hanya pada bagaimana cara agar masalah kehidupan tersebut segera enyah dari hadapan kita, kita tidak pernah berupaya memahami hikmah tersebut. Karena kita tidak pernah memahami hikmahnya, maka Allah memberikan masalah tersebut berulang-ulang agar kita mengalami dan memahami maksud dibalik hadirnya sebuah permasalahan kehidupan.

Ibarat seorang guru matematika memberikan soal ujian kepada muridnya. Ketika sang murid tidak dapat menjawab dengan benar pertanyaan-pertanyaan yang diberikan sang guru, maka sang guru akan memberikan soal ujian lagi dan lagi, sampai sang murid memahaminya.Inilah kenapa Allah Swt seringkali memberikan kepada kita sebuah masalah secara berulang-ulang.

Dan tidaklah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran? [QS At-Taubah (9):126]

Sebuah masalah ibarat tungku api yang merubah beras menjadi nasi, yang merubah gandum menjadi roti. Sebuah masalah hadir untuk merubah sesuatu dalam diri kita, sadar atau tidak kita sadari. Sehingga ada kata-kata bijak, seorang pasti akan menjadi seorang yang berbeda setelah mengalami sebuah permasalahan kehidupan.

Ketika kita tidak peduli dengan hikmah dibalik sebuah musibah, maka Allah akan terus menerus menghadapkan kita dengan masalah kehidupan, sampai kita benar-benar berubah seperti yang diharapkan-Nya baru masalah tersebut akan diangkat dari hadapan kita.

Wassalam,

PEDULI YATIM PIATU DAN DHU'AFA ---> www.istanayatim.com


SEDEKAH PEDULI YATIM PIATU DAN DHU'AFA ISTANA YATIM
  • Untuk membiayai operasional "boarding system" Istana Yatim (Asrama Yatim Piatu) kami.
  • Untuk membiayai operasional sekolah para santri yatim piatu dan dhu'afa Istana Yatim
  • Untuk membiayai operasional pendidikan no-regular (bimbel) para santri yatim piatu dan dhu'afa Istana Yatim.
  • Untuk membiayai pengadaan teknologi, baik perangkat keras maupun perangkat lunak.
  • Untuk membiayai penyediaan berbagai fasilitas pendukung.
Untuk informasi lebih lanjut tentang ISTANA YATIM,
silahkan kunjungi websitenya : www.istanayatim.com
Untuk melihat data santri ISTANA YATIM,
silahkan klik link berikut : Data Santri Istana Yatim

Rek. Zakat, Infaq & Sedekah : 
BCA : 8800-454-744
BNI : 021-763-7466
MANDIRI : 101-00-0608805-6
a/n : Yayasan Darul Ilmi Al Fikri 

Rek. Wakaf ISTANA Yatim : 
MUAMALAT : 0000-257-859
MANDIRI : 164-00-0017431-0
BCA : 8800-50000-2
a/n : Yayasan Darul Ilmi Al Fikri 

tag : Ustadz Mika Maulana, Mika Maulana, Ust.Mika Maulana Suhelmi, Mika Maulana Suhelmi, Ustadz Mika Maulana Suhelmi, Muka Maulana Pondok Cabe, Mika Maualan Istana Yatim, Ustadz Mika Maulana Istana Yatim, Ustadz Mika Maulana Istana Yatim Pondok Cabe, Ustadz Mika Maulana Suhelmi Istana Yatim Pondok Cabe, Motivasi Islami, Artikel Motivasi, Artikel Motivasi Islami, Inspirasi Islami, Kisah Inspirasi, Kisah Inspirasi Islami, Artikel Islami, Kumpulan Artikel Islami, Kumpulan Artikel Motivasi.


Rabu, 18 Juni 2014

Motivasi Islami : AMPUNAN ALLAH BEGITU BERLIMPAH

“Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar [2] : 53)
Suatu hari Umar bin khattab ra datang menemui Rasulullah dengan menangis. Rasulullah pun bertanya kepadanya, "Apakah gerangan yang menyebabkan engkau menangis, wahai Umar?". "Sungguh hati saya merasa tersentuh oleh ratapan seorang pemuda yang ada dipintu rumah tuan! Jawab Sayyidina Umar ". Rasulullah pun memerintahkan Umar untuk membawa pemuda itu masuk ke dalam rumah.
Ketika pemuda itu telah sampai dihadapan Rasulullah, beliaupun bertanya kepadanya, "Wahai Pemuda, apakah gerangan yang menyebabkan engkau menangis dan meratap?" Pemuda itu menjawab , "Wahai Rasulullah, yang membuat saya menangis ialah banyaknya dosa yang telah saya lakukan !

"Tidak perlu menunggu kaya...siapapun diri kita, pastinya akan selalu punya kesempatan untuk bisa berbagi dan peduli..." klik--> www.istanayatim.com


Saya sangat takut akan azab Allah S.W.T karena kemurkaan-Nya atas dosa-dosa saya !” Beliau kembali bertanya, "Apakah engkau mempersekutukan Allah dengan sesuatu ?" "Tidak!" jawab pemuda itu. "Apakah engkau telah membunuh orang dengan tanpa hak?" tanya Rasulullah . "tidak !" jawab pemuda itu. "Allah akan mengampuni semua dosamu, meskipun dosamu itu sepenuh tujuh langit dan bumi!" jelas Rasulullah sembari menenangkan pemuda itu.Mendengar penjelasan Rasulullah , pemuda itupun berkata, "Wahai Rasulullah, dosa saya lebih besar dari tujuh langit dan gunung yang tegak berdiri!"
Beliau pun menimpali , “Apakah dosamu lebih besar dari kursi (kekuasaan ) Allah?”.“Dosa saya lebih besar lagi !” ratap pemuda itu. “Apakah dosamu lebih besar dari Arsy?” beliau kembali bertanya. “Dosa saya lebih besar dari itu !” jawab pemuda itu. “Mana yang lebih besar, besar dosamu ataukah Allah?” Tanya Rasulullah. “Allah tentu yang lebih besar dan lebih Agung , tapi saya malu kepadamu, Wahai Rasulullah, jawab pemuda itu. Beliaupun bersabda, : “Janganlah engkau malu, beritahukan dosamu kepada saya!” pinta Rasulullah.
Oleh karena beliau yang meminta , maka pemuda itupun tak kuasa untuk menolaknya. Akhirnya iapun menceritakan dosa yang telah dikerjakannya, seraya berkata : “Wahai Rasulullah , sungguh saya adalah seorang pemuda pembongkar mayat dalam kubur sejak 7 tahun yang lalu. Suatu ketika ada seorang gadis putri seorang sahabat golongan Anshar yang meninggal dunia, maka saya pun membongkar kuburnya dan mengeluarkannya dari kafannya, karena tergoda bisikan syetan , saya pun menggaulinya.
Tiba-tiba gadis itu berbicara, “Tidakkah engkau malu kepada Kitab Allah dan pada hari dia meletakkan ‘kursinya” untuk memberikan hukum serta mengambil hak orang yang dianiaya dari orang yang telah menganiayanya? Mengapa engkau jadikan aku telanjang dihari penghimpunan kelak, dari orang-orang yang telah meninggal dunia? Mengapa engkau jadikan aku berdiri dalam keadaan junub diharibaan Allah? disaat yang lain telah di sucikan.”
Mendengar cerita itu Rasulullah pun meloncat karena gusarnya . Dengan suara keras , beliau berkata, “Wahai pemuda Fasiq, keluar dan jauh-jauhlah kamu dari saya, tidak ada balasan yang pantas untukmu kecuali neraka!”. Pemuda itupun keluar dengan menangis sejadi-jadinya . Ia menjauh dari khalayak ramai dan menuju kepadang pasir yang luas, dengan tidak mau makan dan minum sesuatupun, serta tidak bisa tidur sampai tujuh hari lamanya.Tubuhnyapun menjadi lemah dan lunglai, hingga iapun jatuh tersungkur dipermukaan tanah berpasir yang maha luas itu.
Seraya meletakkan wajahnya dipasir sambil bersujud, ia berdoa dan meratap. “Wahai Tuhan, aku adalah hamba-Mu yang berdosa dan Bersalah. Aku telah datang ke pintu Rasul-Mu agar dia bisa menolongku di sisi-Mu. Namun ketika ia mendengar dosaku yang sangat besar, ia mengusir dan mengeluarkan aku dari pintunya. Kini aku datang kepintu-Mu, agar engkau berkenan menjadi penolongku di sisi Kekasih-Mu. Sesungguhnya engkau maha pengasih kepada hamba-hamba-MU . Tak ada lagi harapanku kecuali kepada-Mu . Kalau tidak mungkin, maka lebih baik kirimkan saja api neraka dari sisi-Mu, dan bakarlah aku dengan api itu didunia-Mu ini, sebelum aku engkau bakar diakhirat-Mu nanti!”.
Sepeninggal pemuda itu , Rasulullah didatangi oleh malaikat jibril , seraya berkata, “Wahai Rasulullah, Allah telah berkirim salam kepada-Mu!” Beliaupun menjawab salam Allah. Setelah itu malaikat Jibril kembali berkata, “Allah bertanya kepadamu , apakah kamu yang telah menciptakan para makhluk?” Beliau menjawab , “Tentu saja tidak, Allah yang telah menciptakan semuanya!”.
“Allah juga bertanya kepadamu, Apakah kamu yang telah memberi rezeki kepada makhluk-makhluk Allah?” malaikat jibril kembali bertanya. “Tentu saja Allahlah yang telah memberi rezeki kepada mereka , bahkan juga kepadaku!” jawab beliau. “Apakah kamu yang berhak menerima taubat seseorang?” kembali malaikat jibril bertanya. “Allahlah yang berhak menerima dan mengampuni dosa hamba-hamba-Nya!’ jawab beliau. Mendengar jawaban-jawaban Rasulullah , malaikat jibrilpun berkata , “Allah telah berfirman kepadamu , “Telah aku kirimkan seorang hamba-Ku yang menerangkan satu dosanya kepadamu, tapi mengapa engkau berpaling daripadanya dan sangat marah kepadanya?”.
“Lalu bagaimana keadaan orang-orang mukmin besok, jika mereka itu datang padamu dengan dosa yang lebih besar seperti gunung? Kamu adalah Utusan-Ku yang aku utus sebagai rahmat untuk seluruh alam, maka jadilah engkau orang yang berkasih sayang kepada orang-orang beriman dan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa . Maafkanlah kesalahan hamba-Ku, karena aku telah menerima taubatnya dan mengampuni dosanya”.
Mendengar teguran Allah , Rasulullahpun mengutus beberapa orang sahabatnya untuk menemui pemuda yang pernah diusir Rasulullah itu. Akhirnya mereka menemukannya dan merekapun memberikan kabar gembira tentang ampunan Allah kepadanya. Lalu mereka membawa pemuda itu kepada Rasulullah, dan kebetulan saat mereka sampai beliau sedang mengerjakan Shalat. Maka merekapun segera bermakmum dibelakangnya. Setelah selesai membaca surat Alfatihah beliaupun membaca surat At-taakatsur baru saja beliau sampai ayat “ Hatta zurtumul maqabir (sampai kamu masuk kedalam kubur),” maka pemuda itupun menjerit keras dan terjatuh. Ketika orang-orang telah selesai Shalat, merekapun mendapati ternyata pemuda itu telah meninggal dunia. Allah berkenan menerima taubatnya dan memasukkannya kedalam kelompok hamba-Nya yang shaleh.
Saudaraku yang dirahmati Allah, kisah di atas menggambarkan betapa begitu besarnya kasih sayang serta ampunan Allah S.W.T,yang begitu melimpah. Jadi sebesar apapun dosa yang kita miliki saat ini pasti akan Allah ampuni jika kita benar-benar mau kembali kepadanya dengan taubat yang sungguh-sungguh (taubatan nasuha).
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al Baqarah [2] : 222)

Wassalam,
Semoga Bermanfaat.

#########


SEDEKAH PEDULI YATIM PIATU DAN DHU'AFA ISTANA YATIM
  • Untuk membiayai operasional "boarding system" Istana Yatim (Asrama Yatim Piatu) kami.
  • Untuk membiayai operasional sekolah para santri yatim piatu dan dhu'afa Istana Yatim
  • Untuk membiayai operasional pendidikan no-regular (bimbel) para santri yatim piatu dan dhu'afa Istana Yatim.
  • Untuk membiayai pengadaan teknologi, baik perangkat keras maupun perangkat lunak.
  • Untuk membiayai penyediaan berbagai fasilitas pendukung.
Untuk informasi lebih lanjut tentang ISTANA YATIM,
silahkan kunjungi websitenya : www.istanayatim.com
Untuk melihat data santri ISTANA YATIM,
silahkan klik link berikut : Data Santri Istana Yatim
 
Rek. Zakat, Infaq & Sedekah : 
BCA : 8800-454-744
BNI : 021-763-7466
MANDIRI : 101-00-0608805-6
a/n : Yayasan Darul Ilmi Al Fikri 

Rek. Wakaf ISTANA Yatim : 
MUAMALAT : 0000-257-859
MANDIRI : 164-00-0017431-0
BCA : 8800-50000-2
a/n : Yayasan Darul Ilmi Al Fikri 

tag : Ustadz Mika Maulana, Mika Maulana, Ust.Mika Maulana Suhelmi, Mika Maulana Suhelmi, Ustadz Mika Maulana Suhelmi, Muka Maulana Pondok Cabe, Mika Maualan Istana Yatim, Ustadz Mika Maulana Istana Yatim, Ustadz Mika Maulana Istana Yatim Pondok Cabe, Ustadz Mika Maulana Suhelmi Istana Yatim Pondok Cabe, Motivasi Islami, Artikel Motivasi, Artikel Motivasi Islami, Inspirasi Islami, Kisah Inspirasi, Kisah Inspirasi Islami, Artikel Islami, Kumpulan Artikel Islami, Kumpulan Artikel Motivasi.

Minggu, 15 Juni 2014

Motivasi Islami : JADIKAN HATI SELUAS SAMUDERA


“Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2] : 155)

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar Pak tua itu.

“Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping. Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”. “Segar.”, sahut tamunya.

“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi. “Tidak”, jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.

“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”
Wassalam,
Semoga Bermanfaat.

#########


SEDEKAH PEDULI YATIM PIATU DAN DHU'AFA ISTANA YATIM
  • Untuk membiayai operasional "boarding system" Istana Yatim (Asrama Yatim Piatu) kami.
  • Untuk membiayai operasional sekolah para santri yatim piatu dan dhu'afa Istana Yatim
  • Untuk membiayai operasional pendidikan no-regular (bimbel) para santri yatim piatu dan dhu'afa Istana Yatim.
  • Untuk membiayai pengadaan teknologi, baik perangkat keras maupun perangkat lunak.
  • Untuk membiayai penyediaan berbagai fasilitas pendukung.
Untuk informasi lebih lanjut tentang ISTANA YATIM, 
silahkan kunjungi websitenya : www.istanayatim.com
Untuk melihat data santri ISTANA YATIM, 
silahkan klik link berikut : Data Santri Istana Yatim

 
Rek. Zakat, Infaq & Sedekah : 
BCA : 8800-454-744
BNI : 021-763-7466
MANDIRI : 101-00-0608805-6
a/n : Yayasan Darul Ilmi Al Fikri 

Rek. Wakaf ISTANA Yatim : 
MUAMALAT : 0000-257-859
MANDIRI : 164-00-0017431-0
BCA : 8800-50000-2
a/n : Yayasan Darul Ilmi Al Fikri 

tag : Ustadz Mika Maulana, Mika Maulana, Ust.Mika Maulana Suhelmi, Mika Maulana Suhelmi, Ustadz Mika Maulana Suhelmi, Muka Maulana Pondok Cabe, Mika Maualan Istana Yatim, Ustadz Mika Maulana Istana Yatim, Ustadz Mika Maulana Istana Yatim Pondok Cabe, Ustadz Mika Maulana Suhelmi Istana Yatim Pondok Cabe, Motivasi Islami, Artikel Motivasi, Artikel Motivasi Islami, Inspirasi Islami, Kisah Inspirasi, Kisah Inspirasi Islami, Artikel Islami, Kumpulan Artikel Islami, Kumpulan Artikel Motivasi.

Jumat, 13 Juni 2014

Artikel Motivasi Islami : ADA HIKMAH DALAM SETIAP KEJADIAN


>>>>berbagi dan peduli yatim piatu dan dhu'afa ---> klik www.istanayatim.com
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
( QS. Alam Nasyrah [94] : 6 )

Dahulu kala ada seorang raja yang suka berburu. Raja ini memiliki seorang penasihat yang dekat dengannya. Setiap berburu si penasihat ini selalu menyertainya. Suatu hari ketika berburu, jari kelingking raja terluka sehingga putus karena terkena pedangnya sendiri. Si Raja bertanya kepada penasihatnya, “Apa makna dari kejadian ini?” Kemudian si penasihat mengatakan bahwa walau bagaimanapun buruknya kejadian ini, Raja harus tetap bersyukur, masih beruntung hanya jari kelingking saja yang putus.

Mendengar ucapan si penasihat, Raja menjadi marah karena Raja mengartikan si penasihat seakan senang raja mendapatkan musibah. Saking murkanya, Raja memenjarakan penasihatnya tersebut seumur hidup dan mencari penasihat yang lainnya.

Seiring dengan perjalanan waktu, Raja dan penasihat barunya, tetap menjalankan hobinya berburu. Pada suatu hari, karena keasyikan berburu Raja dan penasihat ini terpisah dari pasukan pengawal. Raja tersesat sampai ke tengah hutan belantara, yang belum pernah dia lalui sebelumnya. Tiba-tiba Raja dikepung oleh sekelompok orang, yang merupakan suku primitif yang masih suka memberikan tumbal sesembahan bagi dewa yang di pertuhankannya.
Namun sebelum menjadikan Raja dan penasihatnya sebagai persembahan tumbal bagi dewa mereka, mereka memeriksa seluruh tubuhnya karena mereka hanya memberikan tumbal sesembahan manusia yang lengkap anggota tubuhnya. Ketika mendapati Si Raja yang jari kelingkingnya tidak ada, akhirnya mereka melepaskannya. Namun, mereka tetap menjadikan penasihat Raja sebagai persembahan tumbal karena seluruh tubuhnya utuh, tidak ada yang cacat.

Setelah dilepaskan, Raja berusaha mencari jalan keluar dari hutan. Akhirnya dia berhasil dan kembali ke istananya. Sesampai di istana, si Raja merenungkan kejadian ini. Di sinilah dia teringat akan nasihat penasihatnya terdahulu, yang mengatakan apapun kejadiannya patut disyukuri. Dia merasa menyesal telah memenjarakan penasihatnya, karena tidak mampu melihat apa makna dari rasa syukur yang disampaikan penasihatnya.

Segera Raja memerintahkan untuk membebaskan penasihatnya, kemudian menceritakan kejadian yang dialaminya. Bahkan, Raja meminta maaf kepadanya lalu mengangkatnya lagi sebagai penasihat dan memberinya hadiah sebagai kompensasi hukuman yang diterimanya selama ini.Sang penasihat menjawab, “Saya telah memaafkan baginda, bahkan saya merasa bersyukur telah dipenjara. Kalau tidak, mungkin saya yang akan dijadikan tumbal sesembahan oleh suku yang telah menumbalkan penasihat Raja, pengganti saya.”

Kisah di atas mungkin sering kali juga terjadi dalam kehidupan kita sehari – hari, kita kadang begitu berduka saat kehilangan sesuatu yang berharga atau mengalami sebuah peristiwa yang tidak menyenangkan, tapi di kemudian hari kita malah justru bersyukur karena sudah kehilangan atau sudah mengalami peristiwa tersebut, lantaran Allah S.W.T telah membukakan tabir makna di balik itu semua, sehingga kita jadi mengetahui hikmahnya.

Oleh karena itu saudaraku, teruslah berbaik sangka kepada Allah S.W.T atas setiap keadaan yang kita alami. Teruslah berbaik sangka kepada Allah S.W.T atas setiap kesusahan yang menimpa kita, karena yakinlah bahwasanya tak ada yang sia-sia, tak ada yang kebetulan, semua terjadi semata atas kehendak Allah S.W.T.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” ( QS. Al Baqarah [2] : 216 )

Allah S.W.T adalah Dzat yang Maha Mengetahui segalanya, Dia tahu mana yang terbaik, terpantas serta terindah bagi hamba-hamba-Nya, hanya kita sajalah yang sering kali berprasangka buruk terhadap kehendak-Nya, sering merasa menjadi yang paling tahu, yang paling ngerti, padahal kita cuma seorang hamba yang memiliki banyak keterbatasan, alhasil jadi berantakanlah semuanya, jadi susahlah kehidupan kita, lantaran kita tidak melibatkan Dzat yang Maha Tahu, Dia-lah Allah S.W.T.

“Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku, dan Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku; jika ia mengingat-Ku dalam jiwanya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku; dan jika ia mengingat-Ku dalam lintasan pikirannya, niscaya Aku akan mengingat-Nya dalam pikirannya kebaikan darinya (amal-amalnya)…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Baik sangka kepada Allah akan menghadirkan kebaikan, berburuk sangka kepada Allah pun akan menghadirkan keburukan, oleh karena itu apapun yang terjadi teruslah berbaik sangka kepada-Nya, agar kehidupan kita senantiasa penuh dengan kebaikan-kebaikan yang menghadirkan kebahagiaan.

SEDEKAH PEDULI YATIM PIATU DAN DHU'AFA ISTANA YATIM
  • Untuk membiayai operasional "boarding system" Istana Yatim (Asrama Yatim Piatu) kami.
  • Untuk membiayai operasional sekolah para santri yatim piatu dan dhu'afa Istana Yatim
  • Untuk membiayai operasional pendidikan no-regular (bimbel) para santri yatim piatu dan dhu'afa Istana Yatim.
  • Untuk membiayai pengadaan teknologi, baik perangkat keras maupun perangkat lunak.
  • Untuk membiayai penyediaan berbagai fasilitas pendukung.
Untuk informasi lebih lanjut tentang ISTANA YATIM, silahkan kunjungi websitenya : www.istanayatim.com
Untuk melihat data santri ISTANA YATIM, silahkan klik link berikut : Data Santri Istana Yatim
Rek. Zakat, Infaq & Sedekah : 
BCA : 8800-454-744
BNI : 021-763-7466
MANDIRI : 101-00-0608805-6
a/n : Yayasan Darul Ilmi Al Fikri 

Rek. Wakaf ISTANA Yatim : 
MUAMALAT : 0000-257-859
MANDIRI : 164-00-0017431-0
BCA : 8800-50000-2
a/n : Yayasan Darul Ilmi Al Fikri 

tag : Ustadz Mika Maulana, Mika Maulana, Ust.Mika Maulana Suhelmi, Mika Maulana Suhelmi, Ustadz Mika Maulana Suhelmi, Muka Maulana Pondok Cabe, Mika Maualan Istana Yatim, Ustadz Mika Maulana Istana Yatim, Ustadz Mika Maulana Istana Yatim Pondok Cabe, Ustadz Mika Maulana Suhelmi Istana Yatim Pondok Cabe, Motivasi Islami, Artikel Motivasi, Artikel Motivasi Islami, Inspirasi Islami, Kisah Inspirasi, Kisah Inspirasi Islami, Artikel Islami, Kumpulan Artikel Islami, Kumpulan Artikel Motivasi.

Senin, 26 Mei 2014

Kisah Islami : Uwais Al-Qarni dan Baktinya Kepada Ibundanya


Uwais Al-Qarni - Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, yang berpenyakit sopak, tubuhnya belang-belang, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh, hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya. Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.

Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam.

Bakti Uwais Kepada Ibundanya

"Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji," pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan.

Bukti kasih sayang beliau kepada Ibundanya, demi mengabulkan permintaan Ibundanya, maka berbulan-bulan Uwais melatih diri dengan menggendong domba miliknya naik turun bukit.

Pada saat musim haji tiba, Uwais dengan mantap pergi ke Mekah Almukarromah untuk menunaikan ibadah haji bersama ibunya. Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka'bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka'bah, ibu dan anak itu berdoa. "Ya Allah, ampuni semua dosa ibu," kata Uwais. "Bagaimana dengan dosamu?" tanya ibunya heran. Uwais menjawab, "Dengan terampunnya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga."

Subhanallah, itulah keinganan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah SWT pun memberikan karunianya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuk? itulah tanda untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat utama Rasulullah SAW untuk mengenali Uwais.

###########

Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata : "Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang". Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.

Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina 'Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman," Engkau harus lekas pulang". Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina 'Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru.

Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, sayyidatina 'Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi sayyidatina 'Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Rosulullah SAW bersabda : "Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya." Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar r.a. dan bersabda : "Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do'a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi".

Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka. Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.

Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar ! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ? "Abdullah", jawab Uwais. Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : "Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?" Uwais kemudian berkata: "Nama saya Uwais al-Qorni". Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendo'akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah: "Sayalah yang harus meminta do'a kepada kalian". Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata: "Kami datang ke sini untuk mohon do'a dan istighfar dari anda". Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo'a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : "Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi".

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. "Wahai waliyullah," Tolonglah kami !" tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi," Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!"Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: "Apa yang terjadi ?" "Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak ?"tanya kami. "Dekatkanlah diri kalian pada Allah ! "katanya. "Kami telah melakukannya." "Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!" Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu orang itu berkata pada kami ,"Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat". "Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? "Tanya kami. "Uwais al-Qorni". Jawabnya dengan singkat. Kemudian kami berkata lagi kepadanya, "Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir." "Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?" tanyanya."Ya,"jawab kami. Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di atas air, lalu berdo'a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya. Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, "ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar r.a.)

Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya : "Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa "Uwais al-Qorni" ternyata ia tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit.