Social Media

twitterfacebookgoogle plusinstagramrss feedemail

Senin, 26 Mei 2014

Kisah Islami : Uwais Al-Qarni dan Baktinya Kepada Ibundanya


Uwais Al-Qarni - Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, yang berpenyakit sopak, tubuhnya belang-belang, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh, hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya. Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.

Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam.

Bakti Uwais Kepada Ibundanya

"Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji," pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan.

Bukti kasih sayang beliau kepada Ibundanya, demi mengabulkan permintaan Ibundanya, maka berbulan-bulan Uwais melatih diri dengan menggendong domba miliknya naik turun bukit.

Pada saat musim haji tiba, Uwais dengan mantap pergi ke Mekah Almukarromah untuk menunaikan ibadah haji bersama ibunya. Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka'bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka'bah, ibu dan anak itu berdoa. "Ya Allah, ampuni semua dosa ibu," kata Uwais. "Bagaimana dengan dosamu?" tanya ibunya heran. Uwais menjawab, "Dengan terampunnya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga."

Subhanallah, itulah keinganan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah SWT pun memberikan karunianya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuk? itulah tanda untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat utama Rasulullah SAW untuk mengenali Uwais.

###########

Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata : "Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang". Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.

Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina 'Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman," Engkau harus lekas pulang". Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina 'Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru.

Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, sayyidatina 'Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi sayyidatina 'Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Rosulullah SAW bersabda : "Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya." Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar r.a. dan bersabda : "Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do'a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi".

Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka. Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.

Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar ! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ? "Abdullah", jawab Uwais. Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : "Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?" Uwais kemudian berkata: "Nama saya Uwais al-Qorni". Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendo'akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah: "Sayalah yang harus meminta do'a kepada kalian". Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata: "Kami datang ke sini untuk mohon do'a dan istighfar dari anda". Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo'a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : "Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi".

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. "Wahai waliyullah," Tolonglah kami !" tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi," Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!"Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: "Apa yang terjadi ?" "Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak ?"tanya kami. "Dekatkanlah diri kalian pada Allah ! "katanya. "Kami telah melakukannya." "Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!" Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu orang itu berkata pada kami ,"Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat". "Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? "Tanya kami. "Uwais al-Qorni". Jawabnya dengan singkat. Kemudian kami berkata lagi kepadanya, "Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir." "Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?" tanyanya."Ya,"jawab kami. Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di atas air, lalu berdo'a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya. Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, "ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar r.a.)

Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya : "Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa "Uwais al-Qorni" ternyata ia tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit.


Sabtu, 10 Mei 2014

LARANGAN MENCABUT UBAN DALAM ISLAM


Sebagai umat islam tidaklah cukup hanya dengan mengakui adanya Allah dan mengakui jika Nabi Muhammad SAW itu utusan Allah SWT. Mengakui adanya Allah SWT dan Rasulullah Muhammad, tetapi tidak mengerjakan tuntunannya, juga dianggap kurang sempurna imannya.

Jadi, orang muslim yang berharap surga kelak di akhirat, tetapi tidak melaksanakan sunah Rasul, maka keinginann itu hanya sia-sia. Artinya, tak mungkin ia mendapatkan syafa'at dari Rasulullah kelak di hari Kiamat.

Setiap orang yang mengaku dirinya beriman, maka hendaknya harus mengenal Allah SWT (mengenal Allah SWT dalam tanda kutip); dan harus mengakui keberadaan-Nya. Kemudian bertaqwa kepada-Nya,  dalam arti  menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

"Katakanlah (Wahai Muhammad SAW), jika kalian mencintai Allah SWT maka ikutilah aku (Nabi Muhammad SAW) maka kalian akan dicintai Allah SWT " (QS. Ali Imran:31). 
Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar Ruum: 54)

Sangat wajar jika seseorang menginjak usia senja, muncul pada kepala, wajah atau jenggotnya rambut putih, alias uban. Itulah fase kehidupan yang akan dilewati oleh setiap insan sebagaimana firman Allah Ta’ala.

Kadangkala memang kita ingin menghilangkannya, mencabutnya, atau mengganti warnanya dengan warna lain. Namun alangkah bagusnya jika setiap tindak-tanduk kita didasari dengan ilmu agar kita tidak sampai terjerumus dalam kesalahan dan dosa. Sebuah petuah bagus dari Mu’adz bin Jabal yang harus senantiasa kita ingat:

العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ
Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan berada di belakang ilmu.” (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni, hal. 15)

Uban adalah Cahaya Bagi Seorang Mukmin

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari kiamat. Siapa yang memiliki sehelai uban dalam Islam (dia muslim), maka dengan uban itu akan dicatat baginya satu kebaikan, dengan uban itu akan dihapuskan satu kesalahan, juga dengannya akan ditinggikan satu derajat.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya 2985. Sanad hadis dinilai hasan oleh Syu’aib Al-Arnauth)*

Dari Abdullah bin Umar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Uban adalah cahaya bagi seorang mukmin. Tidaklah seseorang memiliki sehelai uban dalam Islam (dia muslim) melainkan setiap ubannya akan dihitung sebagai suatu kebaikan dan akan meninggikan derajatnya.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman 5970. Hadis ini dihasankan al-Albani dalam Silsilah Ahadis Shahihah, 1243)**
Hukuman bagi orang yang mencabut ubannya adalah kehilangan cahaya pada hari kiamat nanti. 
Dari Fudholah bin ‘Ubaid, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Barangsiapa memiliki sehelai uban di jalan Allah (dia muslim), maka uban tersebut akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat.” Kemudian ada seseorang yang berkata ketika disebutkan hal ini: “Orang-orang pada mencabut ubannya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Siapa saja yang mau, silahkan dia hilangkan cahayanya (baginya di hari kiamat).” (HR. Ahmad 23952, At Thabrani dalam al-Kabir 783. Hadis ini dihasankan al-Albani dalam Silsilah as-Shahihah, 3371).
Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Siapa saja yang ingin, maka silakan dia memotong cahaya (baginya di hari kiamat)”; tidak menunjukkan bolehnya mencabut uban, namun bermakna ancaman.
Allahu a’lam

Catatan :
*) Hadîts al-Ḥasan adalah tingkatan hadits yang ada dibawah hadits Shahih. Menurut Imam Tirmidzi, hadits Hasan adalah hadits yang tidak berisi informasi yang bohong, tidak bertentangan dengan hadits lain dan Al-Qur'an dan informasinya kabur, serta memiliki lebih dari satu Sanad. Selain itu, menurut Abdul Karim, hadits Hasan juga merupakan hadits yang diriwayatkan oleh rawi terkenal dan disetujui keakuratannya oleh sebagian besar pakar hadits.
**) Hadits Shahih hadis yang bersambung sanad nya (jalur periwayatan) melalui penyampaian para perawi yang ‘adil, dhabith, dari perawi yang semisalnya sampai akhir jalur periwayatan, tanpa ada syudzudz, dan juga tanpa ‘illat.
Penjelasan Definisi
Bersambung sandanya: Artinya, masing-masing perawi mengambil hadis dari perawi di atasnya secara langsung, dari awal periwayatan hingga ujung (akhir) periwayatan.
Perawi yang ‘adil. Seorang perawi disebut ‘adil jika memenuhi kriteria: muslim, baligh, berakal, tidak fasiq, dan juga tidak cacat maruah wibawanya (di masyarakat).

Perawi yang dhabith, artinya perawi ini adalah orang yang kuat hafalannya. Sehingga hadis yang dia bawa tidak mengalami perubahan. Perawi yang dhabithada 2:
Dhabith karena kekuatan hafalan, yang disebut dhabtus shadr.
Dhabith karena ketelitian catatan, yang diistilahkan dengan dhabtul kitabah.

Perawi yang memiliki dhabtul kitabah, hadisnya bisa diterima jika dia menyampaikannya dengan membaca catatan.

Tanpa syudzudz, artinya, hadis yang diriwayatkan itu tidak bertentangan dengan hadis lain yang diriwayatkan dengan jalur lebih terpercaya.

Tanpa ‘illat‘Illat (cacat hadis) adalah sebab tersembunyi yang mempengaruhi kesahihan hadis, meskipun bisa jadi zahirnya tampak shahih.

DO'A MEMINTA KETAQWAAN dan QONA'AH

Foto: Assalamu’alaikum Wr.Wb,

Saudaraku….
Setiap kita pasti ingin mendapatkan petunjuk, setiap kita pasti ingin menjadi bertakwa, terjaga dari segala yang tidak baik, serta merasa cukup atas semua yang Allah karuniakan. Do’a ini bisa jadi amalan kita, sebagai munajat meminta kesemuanya itu.

Yang dimaksud dengan “al huda” adalah petunjuk dalam ilmu dan amal.Yang dimaksud “al ‘afaf” adalah dijauhkan dari yang tidak halal dan menahan diri darinya. Yang dimaksud “al ghina” adalah kaya hati, yaitu hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada harta yang ada di tangan orang lain. 

Al ghina juga berarti dicukupkan oleh Allah dari apa yang ada di sisi manusia dengan selalu qona’ah, selalu merasa cukup ketika Allah memberinya harta sedikit atau pun banyak. Karena ingatlah bahwa kekayaan hakiki adalah hati yang selalu merasa cukup.

An Nawawi –rahimahullah- mengatakan, “ ’Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.” (Syarh Muslim, 17/41)

Saudaraku….
Semoga kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa diberikan petunjuk, bertakwa, terjaga dari keburukan serta senantiasa bersifat qona’ah, karena hati kita senantiasa merasa cukup.

Aamiin Allahuma Aamiin.

Wassalam,
Mika Maulana S
www.istanayatim.com

"Klik Like dan Share sebagai dakwah anda hari ini."

Assalamu’alaikum Wr.Wb,

Saudaraku….
Setiap kita pasti ingin mendapatkan petunjuk, setiap kita pasti ingin menjadi bertakwa, terjaga dari segala yang tidak baik, serta merasa cukup atas semua yang Allah karuniakan. Do’a ini bisa jadi amalan kita, sebagai munajat meminta kesemuanya itu.

Yang dimaksud dengan “al huda” adalah petunjuk dalam ilmu dan amal.Yang dimaksud “al ‘afaf” adalah dijauhkan dari yang tidak halal dan menahan diri darinya. Yang dimaksud “al ghina” adalah kaya hati, yaitu hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada harta yang ada di tangan orang lain.

Al ghina juga berarti dicukupkan oleh Allah dari apa yang ada di sisi manusia dengan selalu qona’ah, selalu merasa cukup ketika Allah memberinya harta sedikit atau pun banyak. Karena ingatlah bahwa kekayaan hakiki adalah hati yang selalu merasa cukup.

An Nawawi –rahimahullah- mengatakan, “ ’Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.” (Syarh Muslim, 17/41)

Saudaraku….
Semoga kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa diberikan petunjuk, bertakwa, terjaga dari keburukan serta senantiasa bersifat qona’ah, karena hati kita senantiasa merasa cukup.

Aamiin Allahuma Aamiin.

Wassalam..


Jumat, 09 Mei 2014

MUSIBAH ITU BUKTI KASIH SAYANG ALLAH SWT


Assalamu'alaikum Wr.Wb,

Saudaraku yang dirahmati Allah,

Bagi anda yang sedang menderita musibah atau penyakit, jangan bersedih, sesungguhnya Allah S.W.T sedang mencurah limpahkan kasih sayang-Nya untuk kita semua. Karena sesungguhnya Allah tidak menetapkan segala sesuatu,  melainkan didalamnya terdapat kebaikan dan rahmat bagi hamba-Nya. Ada hikmah yang sangat banyak dalam suatu musibah, kesusahan maupun penyakit yang tidak dapat dicapai dengan akal sehat manusia.

“Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”(QS. Al Baqarah: 155)

Sungguh keliru orang yang beranggapan, bahwa hamba Allah yang paling shaleh adalah orang yang paling jauh dari cobaan kesusahan dan penderitaan , bahkan cobaan kesusahan / derita / penyakit merupakan tanda keimanan.

Dari Mush’ab bin Sa’ad, dari bapaknya, ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah, “Siapakah orang yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para nabi, kemudian yang setelahnya dan setelahnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar keimanannya. Siapa yang imannya tinggi, maka ujiannya pun berat, dan siapa yang imannya rendah maka ujiannya disesuaikan dengan kadar imannya. Ujian ini akan tetap menimpa seorang hamba sampai ia berjalan di bumi tanpa membawa dosa.” (HR. Tirmidzi)

Musibah, adalah salah satu tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya, maka Allah akan mempercepat hukuman di dunia. Dan apabila Allah menginginkan keburukan bagi hamba-Nya maka ditahan hukuman itu karena dosa-dosanya sehingga ia mendapatkan balasannya pada hari kiamat.” (HR. Tirmidzi)


Waba'du,
Saudaraku, tetaplah baik sangka, bersabar dan ikhlas dalam menjalani setiap musibah ataupun penyakit yang kita derita, karena boleh jadi Allah sedang mempersiapkan kita agar lebih layak ketika menghadap-Nya kelak. Insya Allah.

Wassalam,

UNTUK KITA RENUNGKAN : HARTA dan KEMATIAN



Saudaraku dan juga engkau wahai diriku...
Jangan pelit-pelit berbagi, karena sebanyak apapun harta yang kau kumpulkan, niscaya tatkala meninggal kau hanya membawa secarik kafan, kapas & kapur barus.

Saudaraku dan juga engkau wahai diriku...
Jangan pelit-pelit berbagi, karena sebagus apapun kendaraan kita, yang akan kita taiki menuju pusara hanya keranda besi tua.

Saudaraku dan juga engkau wahai diriku...
Jangan pelit-pelit berbagi, karena seluas apapun tanah yang kita miliki di dunia, hanya sepetak liang lahat yg akan kita tempati.

Saudaraku dan juga engkau wahai diriku...
Jangan pelit-pelit berbagi, karena hartamu yang sesungguhnya ialah yang kau belanjakan di sisi Tuhanmu.

Saudaraku dan juga engkau wahai diriku...
Mari berbagi, sebelum nafas kita terhenti....

Keyword : Sedekah, harta manfaat, syurga, berbelanja harta, mati

MOTIVASI ISLAMI : IBUKU ADALAH ANUGERAH TERINDAH DALAM HIDUPKU

Foto: "IBUKU ADALAH ANUGERAH TERINDAH DALAM HIDUPKU."

Saudaraku...
Setiap kita belum tentu jadi orang tua, tapi setiap kita pasti menjalani peran sebagai seorang anak, anak yang pastinya terlahir dari rahim seorang Ibu. Sosok perempuan yang telah bersusah payah mengandung,melahirkan dan membesarkan kita.

Duh nulis tulisan ini aja sambil berlinang air mata, karena kebayang betapa besar dan lelahnya perjuangan serta pengorbanan ibu saya, terlebih beliau musti ngerawat saya dan kedua adik saya yang masih kecil-kecil sendirian, karena ayahanda tercinta sudah kembali kepada sang khalik sejak saya berusia 3,5 Tahun.

Tambah deras linangan air mata ini menatap usia saya yang semakin bertambah namun saya ngerasa belum maksimal membahagiakan ibu saya. Sungguh besar jasa dan pengorbanan ibu, karena sekalipun seluruh butiran pasir di dunia ini dijadikan alat hitungnya maka niscaya tak akan pernah cukup menghitung jasa ibu kita-kita orang.

Saudaraku...
Ibu saya memang sosok perempuan tangguh nan luar biasa, dan saya yakin juga begitupun ibu-ibu anda semua, Maha benar Allah yang telah menyatakan melalui Rosul-Nya yang mulia bahwasanya Surga terletak di bawah telapak kaki ibu kita.

Oleh karena itu seberapa tinggipun derajat dan pangkat yang kita raih tak dapat melebihi tingginya telapak kaki ibu kita tercinta. Seberapa banyak pun harta yang telah berhasil kita koleksi, tak melebihi berharganya telapak kaki ibu kita tercinta.

Saudaraku...
Ibu adalah sosok keramat yang berjalan, karena ridho Allah bergantung kepadanya, jangankan membentaknya, berkata 'AH' saja tidak diperkenan kepadanya. 

Saudaraku...
Ingatlah, seorang Ibu mampu mengurus 10 orang anaknya, namun 10 orang anak belum tentu mampu mengurus ibunya.

Saudaraku...
Ingatlah, seorang yang sukses sesungguhnya bukanlah mereka yang berhasil pendidikan,usaha maupun karirnya, namun orang yang sukses ialah mereka yang telah berhasil membahagiakan ibunya.

Ya Rabb...
Ampuni segala dosa,kesalahan dan kehilafan ibu kami,
Ampuni kami yang belum bisa membahagiakan ibu kami, 
Ampuni kami yang sering menyakiti perasaan ibu kami karena kedurhakaan kami,
Ampuni kami yang sering lalai atas ibu kami karena kesibukan kami,
Ampuni kami Ya Rabb...

Ya Rabb...
Buatlah kami agar senantiasa bisa membahagiakan ibu kami,
Seandainya kami tak mampu, maka bahagiakan Ia dengan cara-Mu yang mengagumkan Ya Rabb.

Ya Rabb...
Sayangi dan kasihanilah ibu kami,
Curah limpahkan ridho dan barokah-Mu atasnya.

Aamiin Allahuma Aamiin...

Dedicated for my beloved mother Dzainabun binti M. Amin 

# 'LIKE' and 'SHARE' untuk ibu.

Saudaraku...
Setiap kita belum tentu jadi orang tua, tapi setiap kita pasti menjalani peran sebagai seorang anak, anak yang pastinya terlahir dari rahim seorang Ibu. Sosok perempuan yang telah bersusah payah mengandung,melahirkan dan membesarkan kita.

Duh nulis tulisan ini aja sambil berlinang air mata, karena kebayang betapa besar dan lelahnya perjuangan serta pengorbanan ibu saya, terlebih beliau musti ngerawat saya dan kedua adik saya yang masih kecil-kecil sendirian, karena ayahanda tercinta sudah kembali kepada sang khalik sejak saya berusia 3,5 Tahun.

Tambah deras linangan air mata ini menatap usia saya yang semakin bertambah namun saya ngerasa belum maksimal membahagiakan ibu saya. Sungguh besar jasa dan pengorbanan ibu, karena sekalipun seluruh butiran pasir di dunia ini dijadikan alat hitungnya maka niscaya tak akan pernah cukup menghitung jasa ibu kita-kita orang.

Saudaraku...
Ibu saya memang sosok perempuan tangguh nan luar biasa, dan saya yakin juga begitupun ibu-ibu anda semua, Maha benar Allah yang telah menyatakan melalui Rosul-Nya yang mulia bahwasanya Surga terletak di bawah telapak kaki ibu kita.

Oleh karena itu seberapa tinggipun derajat dan pangkat yang kita raih tak dapat melebihi tingginya telapak kaki ibu kita tercinta. Seberapa banyak pun harta yang telah berhasil kita koleksi, tak melebihi berharganya telapak kaki ibu kita tercinta.

Saudaraku...
Ibu adalah sosok keramat yang berjalan, karena ridho Allah bergantung kepadanya, jangankan membentaknya, berkata 'AH' saja tidak diperkenan kepadanya.

Saudaraku...
Ingatlah, seorang Ibu mampu mengurus 10 orang anaknya, namun 10 orang anak belum tentu mampu mengurus ibunya.

Saudaraku...
Ingatlah, seorang yang sukses sesungguhnya bukanlah mereka yang berhasil pendidikan,usaha maupun karirnya, namun orang yang sukses ialah mereka yang telah berhasil membahagiakan ibunya.

Ya Rabb...
Ampuni segala dosa,kesalahan dan kehilafan ibu kami,
Ampuni kami yang belum bisa membahagiakan ibu kami,
Ampuni kami yang sering menyakiti perasaan ibu kami karena kedurhakaan kami,
Ampuni kami yang sering lalai atas ibu kami karena kesibukan kami,
Ampuni kami Ya Rabb...

Ya Rabb...
Buatlah kami agar senantiasa bisa membahagiakan ibu kami,
Seandainya kami tak mampu, maka bahagiakan Ia dengan cara-Mu yang mengagumkan Ya Rabb.

Ya Rabb...
Sayangi dan kasihanilah ibu kami,
Curah limpahkan ridho dan barokah-Mu atasnya.

Aamiin Allahuma Aamiin...

Keyword : Ibu, Sayang Ibu, Kasih Sayang Ibu, Syurga, Perjuangan seorang ibu